← Kembali ke Daftar Artikel
Kabar Madrasah • 10 August 2026

Best Praktiks Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di MI Mathlaul Huda Bojongkamal

PRAKTIK BAIK IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS CINTA (KBC) MELALUI METODE ARKA DI MI MATHLAUL HUDA BOJONGKAMAL By Iing S, S. Ag.,M.Pd. (Manajemen Mutu MI Mathlaul Huda) A. Pendahuluan Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki keimanan, akhlak mulia, kepedulian sosial, kemampuan hidup bersama, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan bangsa. Dalam konteks pendidikan madrasah, proses pendidikan perlu menghadirkan keseimbangan antara pengetahuan, penghayatan, sikap, dan pengamalan. Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai paradigma pendidikan yang menempatkan nilai cinta, kasih sayang, kemanusiaan, tanggung jawab, dan kepedulian sebagai ruh dalam proses pendidikan. KBC secara resmi diluncurkan pada 24 Juli 2025 dan selanjutnya diperkuat melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta. (Kementerian Agama) MI Mathlaul Huda Bojongkamal mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan menjadikan nilai cinta sebagai ruh dalam pembelajaran dan budaya madrasah. Implementasi tersebut tidak ditempatkan sebagai program yang berdiri sendiri, tetapi diintegrasikan ke dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, pembiasaan, serta interaksi sosial seluruh warga madrasah. Dalam mengoperasionalkan nilai-nilai KBC, madrasah mengembangkan pola ARKA, yaitu Aktivitas, Refleksi, Konsep, dan Aplikasi. Pada tahap Aktivitas, peserta didik memperoleh pengalaman nyata melalui kegiatan pembelajaran maupun kegiatan sosial. Pada tahap Refleksi, peserta didik diajak mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan makna yang diperoleh. Selanjutnya, pada tahap Konsep, guru menghubungkan pengalaman tersebut dengan konsep keagamaan, pengetahuan, karakter, dan nilai Panca Cinta. Tahap terakhir adalah Aplikasi, yaitu peserta didik menerapkan nilai yang telah dipahami dalam tindakan nyata dan pembiasaan sehari-hari. Melalui pola tersebut, nilai KBC tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi ditransformasikan menjadi pengalaman, penghayatan, kesadaran, dan perilaku. Implementasi cinta kepada Allah dan Rasul diwujudkan melalui pembiasaan ibadah dan keteladanan akhlak; cinta kepada ilmu melalui budaya literasi, rasa ingin tahu dan pembelajaran aktif; cinta kepada diri dan sesama melalui gerakan kebaikan, empati, gotong royong dan pencegahan perundungan; cinta lingkungan melalui budaya bersih, penghijauan dan kepedulian ekologis; sedangkan cinta tanah air diwujudkan melalui penghargaan terhadap kebinekaan, budaya lokal, gotong royong dan nasionalisme. Dengan demikian, keberhasilan implementasi KBC di MI Mathlaul Huda Bojongkamal tidak hanya dilihat dari kemampuan peserta didik memahami konsep tentang cinta, tetapi terutama dari perubahan sikap dan perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. ARKA menjadi jembatan pedagogis yang mengubah nilai menjadi pengalaman, pengalaman menjadi kesadaran, kesadaran menjadi tindakan, dan tindakan yang dilakukan secara konsisten menjadi karakter serta budaya madrasah. KBC tidak dimaksudkan sebagai mata pelajaran baru yang berdiri sendiri, tetapi sebagai nilai dan perspektif yang diintegrasikan ke dalam pembelajaran, budaya madrasah, kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, maupun kehidupan sehari-hari warga madrasah. Dalam implementasinya, KBC mengembangkan Panca Cinta, yaitu: 1. Cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya; 2. Cinta kepada ilmu; 3. Cinta kepada diri sendiri dan sesama; 4. Cinta kepada lingkungan; 5. Cinta kepada tanah air. Kelima nilai tersebut menjadi kompas dalam membangun peserta didik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki empati, kepedulian, akhlak, spiritualitas, nasionalisme, dan tanggung jawab sosial. (Kementerian Agama) Dengan demikian, keberhasilan KBC tidak cukup diukur dari kemampuan murid menjelaskan arti cinta, kasih sayang, toleransi, kepedulian, atau gotong royong, tetapi harus tampak pada perubahan perilaku dan kebiasaan nyata. Atas dasar pemikiran tersebut, MI Mathlaul Huda Bojongkamal mengembangkan praktik implementasi KBC melalui pola ARKA: Aktivitas – Refleksi – Konsep – Aplikasi. B. Rasional Penggunaan Metode ARKA Implementasi KBC membutuhkan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengalami nilai, merasakan makna, memahami konsep, dan mengamalkannya. Oleh karena itu, pembelajaran tidak berhenti pada: Guru menjelaskan → murid memahami → murid mengerjakan soal. Namun dikembangkan menjadi: Murid mengalami → murid merefleksikan → murid memahami makna → murid mengaplikasikan. Dalam konteks tersebut, ARKA digunakan sebagai alur pedagogis praktis untuk menerjemahkan nilai KBC ke dalam pengalaman belajar yang nyata. ARKA A Aktivitas ↓ R – Refleksi ↓ K – Konsep ↓ A – Aplikasi Dengan pola tersebut, nilai KBC bergerak dari: pengetahuan → penghayatan → kesadaran → tindakan → kebiasaan. Hal tersebut relevan dengan arah KBC yang menekankan pentingnya pengalaman dan penghayatan, bukan hanya transfer pengetahuan. Kemenag sendiri menjelaskan bahwa salah satu persoalan pendidikan adalah masih kurangnya aspek penghayatan, sementara implementasi KBC diarahkan agar nilai cinta hadir dalam pengalaman pendidikan yang nyata. (Kementerian Agama) C. Konsep ARKA dalam Implementasi KBC Tahap Proses Peran Guru Peran Murid Hasil yang Diharapkan A – Aktivitas Mengalami pengalaman nyata Fasilitator Mengalami dan melakukan Pengalaman R – Refleksi Menghayati pengalaman Mengajukan pertanyaan pemantik Menceritakan, merasakan, merenungkan Kesadaran K – Konsep Memaknai pengalaman Menghubungkan dengan ilmu/agama Memahami konsep Pemahaman A – Aplikasi Menerapkan nilai Memberi tantangan/tugas nyata Mempraktikkan Perubahan perilaku Dengan demikian, ARKA bukan sekadar empat tahapan kegiatan pembelajaran, tetapi merupakan proses transformasi nilai: Dari pengalaman menuju kesadaran, dari kesadaran menuju pemahaman, dan dari pemahaman menuju pengamalan. D. Implementasi ARKA di MI Mathlaul Huda Bojongkamal 1. Cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Praktik baik: "Ibadahku adalah Ekspresi Cintaku kepada Allah" A – Aktivitas Murid melaksanakan: • doa sebelum dan sesudah belajar; • salat Dhuha; • salat berjamaah; • membaca Al-Qur'an; • dzikir; • menghafal dan memahami Asmaul Husna; • pembiasaan mengucapkan salam; • menjaga adab terhadap guru dan orang tua. Namun kegiatan tidak berhenti pada rutinitas. R – Refleksi Guru mengajukan pertanyaan: "Mengapa kita berdoa sebelum belajar?" "Apakah salat hanya karena kewajiban?" "Bagaimana cara menunjukkan cinta kepada Allah?" "Bagaimana cara kita menunjukkan cinta kepada Rasulullah?" Murid diberi kesempatan mengungkapkan pengalaman dan perasaannya. K – Konsep Guru menghubungkan pengalaman tersebut dengan: • iman; • takwa; • ibadah; • akhlak; • mahabbah kepada Allah; • keteladanan Rasulullah SAW. A – Aplikasi Murid membuat komitmen: "Saya akan menjaga salat, berkata jujur, menghormati orang tua dan guru, serta berusaha mengikuti akhlak Rasulullah SAW." Indikator keberhasilan: nilai cinta kepada Allah dan Rasul mulai tampak dalam perilaku keseharian, bukan hanya dalam kemampuan menjawab pertanyaan agama. 2. Cinta kepada Ilmu Praktik baik: "Aku Senang Belajar dan Bertanya" A – Aktivitas Guru memberikan permasalahan nyata. Misalnya dalam pembelajaran IPA: "Mengapa tanaman di halaman madrasah ada yang tumbuh subur dan ada yang tidak?" Murid mengamati tanaman, mengukur, berdiskusi, mencatat, dan mencari informasi. R – Refleksi Murid ditanya: "Apa yang membuat kalian penasaran?" "Apa yang kalian temukan?" "Mengapa kita harus mencari tahu?" K – Konsep Guru menghubungkan pengalaman tersebut dengan: • pentingnya ilmu; • budaya membaca; • berpikir kritis; • rasa ingin tahu; • tanggung jawab menggunakan ilmu. A – Aplikasi Murid membuat: "Jurnal Satu Pertanyaan Setiap Hari." Setiap murid menuliskan satu hal yang ingin diketahuinya setiap hari. Dengan demikian, cinta ilmu dibangun melalui rasa ingin tahu, bukan hanya kewajiban menghafal materi. 3. Cinta kepada Diri dan Sesama Praktik baik: "Gerakan Satu Hari Satu Kebaikan" Program ini sangat potensial menjadi program unggulan KBC MI Mathlaul Huda Bojongkamal. A – Aktivitas Setiap murid melakukan minimal satu kebaikan setiap hari. Contoh: • membantu teman; • berbagi; • menyapa; • meminta maaf; • memaafkan; • membantu guru; • menghibur teman; • tidak mengejek; • tidak melakukan bullying. R – Refleksi Guru mengajak murid berdialog: "Apa kebaikan yang kamu lakukan?" "Bagaimana perasaanmu?" "Bagaimana perasaan orang yang kamu bantu?" "Apa yang terjadi apabila semua orang melakukan kebaikan?" K – Konsep Guru memperkenalkan konsep: rahmah – empati – ukhuwah – ta'awun – toleransi – menghargai perbedaan. A – Aplikasi Murid mendapatkan Jurnal Kebaikan. Hari Kebaikan yang Saya Lakukan Perasaan Saya Senin Membantu teman Senang Selasa Membantu ibu Bahagia Rabu Tidak mengejek teman Tentram Kamis Membantu guru Bangga Jumat Berbagi makanan Bersyukur Program ini sekaligus dapat mendukung terciptanya madrasah ramah anak dan lingkungan belajar yang aman secara sosial-emosional, yang menjadi salah satu arah implementasi KBC. (Kemenag Kalteng) 4. Cinta kepada Lingkungan Praktik baik: "Madrasahku Bersih karena Aku Cinta" A – Aktivitas Murid: • melaksanakan Jumat Bersih; • memilah sampah; • merawat tanaman; • membuat taman kelas; • menghemat air; • mengurangi sampah plastik; • membersihkan lingkungan madrasah. R – Refleksi Guru bertanya: "Siapa yang bertanggung jawab terhadap kebersihan madrasah?" "Bagaimana perasaan kita ketika lingkungan bersih?" "Apa akibat membuang sampah sembarangan?" K – Konsep Guru mengaitkan aktivitas dengan: amanah – kebersihan – kesehatan – ekoteologi – tanggung jawab manusia sebagai khalifah. A – Aplikasi Murid membuat: "Komitmen Sahabat Lingkungan." Contohnya: Saya akan membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, merawat tanaman, dan mengajak teman menjaga lingkungan. Dengan cara ini, cinta lingkungan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi perilaku ekologis yang terukur. Praktik seperti menanam, memilah sampah dan menghemat energi juga disebut Kemenag sebagai contoh penerjemahan nilai cinta lingkungan ke dalam kegiatan nyata. (Kementerian Agama) 5. Cinta kepada Tanah Air Praktik baik: "Aku Cinta Indonesia, Aku Menghargai Perbedaan" A – Aktivitas Murid melaksanakan: • upacara; • menyanyikan lagu nasional; • mengenal budaya daerah; • gotong royong; • permainan tradisional; • mengenal keberagaman Indonesia; • proyek "Budaya Nusantara". R – Refleksi Guru bertanya: "Mengapa Indonesia memiliki banyak suku dan budaya?" "Apakah perbedaan harus membuat kita bermusuhan?" "Bagaimana kita menunjukkan cinta kepada Indonesia?" K – Konsep Guru mengembangkan konsep: • persatuan; • kebinekaan; • toleransi; • gotong royong; • nasionalisme; • tanggung jawab sebagai warga negara. A – Aplikasi Murid membuat proyek: "Festival Mini Budaya Nusantara MI Mathlaul Huda" Setiap kelompok mengenalkan: • pakaian; • makanan; • permainan; • bahasa; • kesenian; • rumah adat. Pesan utamanya: "Berbeda budaya, tetap bersaudara dan satu Indonesia." E. ARKA Tidak Hanya Dilaksanakan di Dalam Kelas Hal yang sangat penting adalah bahwa implementasi KBC di MI Mathlaul Huda tidak boleh dipersempit hanya pada RPP/modul ajar. KBC harus menjadi budaya madrasah. 1. Intrakurikuler Terintegrasi dalam: • Al-Qur'an Hadis; • Akidah Akhlak; • Fikih; • SKI; • Bahasa Indonesia; • IPAS; • PPKn; • Matematika; • Seni; • PJOK. 2. Kokurikuler Misalnya: • proyek lingkungan; • bakti sosial; • proyek budaya; • gerakan literasi; • kegiatan kepedulian sosial. 3. Ekstrakurikuler Misalnya: • Pramuka; • tahfidz; • olahraga; • seni; • kegiatan sosial. 4. Budaya Madrasah Misalnya: Salam – Senyum – Sapa – Santun – Peduli – Bersih – Disiplin – Gotong Royong. F. Contoh Integrasi ARKA dengan Mata Pelajaran Mata Pelajaran Materi Panca Cinta Praktik ARKA Akidah Akhlak Tolong-menolong Cinta diri & sesama Simulasi membantu teman Al-Qur'an Hadis Kasih sayang Cinta Allah & sesama Aksi kebaikan Fikih Thaharah Cinta Allah & lingkungan Praktik kebersihan SKI Keteladanan Rasul Cinta Allah & Rasul Meneladani akhlak Bahasa Indonesia Cerita Cinta ilmu & sesama Menulis cerita kebaikan IPAS Lingkungan Cinta lingkungan Menanam dan merawat tanaman PPKn Kebinekaan Cinta tanah air Proyek budaya Nusantara Matematika Data Cinta ilmu Mengolah data kebersihan kelas PJOK Hidup sehat Cinta diri Gerakan hidup sehat Seni Karya budaya Cinta tanah air Membuat karya budaya lokal Dengan demikian, KBC tidak menambah beban kurikulum, melainkan memberikan ruh dan orientasi nilai pada pembelajaran yang sudah berlangsung. G. ARKA sebagai Siklus Transformasi Karakter Secara konseptual, implementasi ARKA dapat digambarkan sebagai berikut: AKTIVITAS Murid melakukan ⬇ REFLEKSI Murid merasakan dan menyadari ⬇ KONSEP Murid memahami makna ⬇ APLIKASI Murid mempraktikkan ⬇ PEMBIASAAN ⬇ KARAKTER ⬇ BUDAYA MADRASAH Jadi target akhir KBC bukan sekadar murid mengetahui nilai cinta, melainkan: mengetahui → memahami → menghayati → melakukan → membiasakan → menjadi karakter. Hal ini sejalan dengan penekanan Kemenag bahwa KBC diarahkan pada lima dimensi religiusitas: keimanan, pengetahuan, penghayatan, peribadatan, dan pengamalan. (Kementerian Agama) H. Sistem Penilaian Praktik KBC Agar KBC tidak menjadi slogan, MI Mathlaul Huda dapat mengembangkan asesmen autentik berbasis perilaku. Contohnya: Nilai Indikator Perilaku Cinta Allah/Rasul Beribadah, berdoa, menjaga adab Cinta Ilmu Bertanya, membaca, mencari informasi Cinta Diri/Sesama Empati, berbagi, tidak membully Cinta Lingkungan Bersih, hemat air, merawat tanaman Cinta Tanah Air Gotong royong, menghargai keberagaman Skala sederhana: MB : Mulai Berkembang BSH : Berkembang Sesuai Harapan BSB : Berkembang Sangat Baik Bukti dapat berupa: • observasi; • jurnal murid; • foto kegiatan; • video; • portofolio; • produk proyek; • refleksi murid; • catatan guru; • testimoni orang tua. I. Indikator Keberhasilan Praktik Baik Implementasi KBC-ARKA di MI Mathlaul Huda dapat dikatakan berhasil apabila mulai terlihat perubahan pada tiga level: 1. Level Murid Murid: • lebih santun; • lebih peduli; • mampu bekerja sama; • berani meminta maaf; • mampu menghargai perbedaan; • memiliki kepedulian lingkungan; • lebih senang belajar; • mampu merefleksikan pengalaman. 2. Level Guru Guru: • semakin humanis; • menggunakan komunikasi positif; • tidak mempermalukan murid; • memberikan apresiasi; • mengintegrasikan nilai cinta dalam pembelajaran; • menggunakan refleksi sebagai bagian pembelajaran. 3. Level Madrasah Terbangun: lingkungan belajar yang aman, nyaman, ramah anak, religius, inklusif, bersih, peduli, dan penuh kasih sayang. Ini sejalan dengan arah implementasi KBC yang menekankan terciptanya atmosfer pendidikan yang positif, ramah anak, dan cinta lingkungan. (Kemenag Kalteng)